Jalan-jalan ke Salatiga memberi kesan tersendiri. Salatiga relatif sejuk, meskipun menurut sejawat di RSUD Salatiga sekarang tidak lagi seperti dulu. Panas. Meski begitu kesejukan masih terasa, apalgi ketika berjalan sepanjang salatiga-Kopeng-Ketep. Perbukitan dan persawahan serta sungai amat cantik untuk dipandang, meski dalam beberapa segmen terganggu oleh jalanan yang rusak. Terlihat beberapa sekolah teologi apabila kita memandang lahan sisi kiri antara Salatiga dan Kopeng. Kompleks Salib Putih yang tampaknya makin berkembang. Hotel salib Putih melengkapi kompleks Sekolah Teologi itu. Hal baru tampaknya adalah ruang ruang yang dikembangkan untuk bussines meeting para profesional dari lingkungan Salib Putih. Bagus, karena selain pengembangan agama, tampaknya juga ada pengembangan SDM. Para profesional dicelup dengan nuansa Salib Putih dan sebaliknya dari Salib Putih dikembangkan profesional. Tampaknya di sana bertemu konsep pengembangan agama dan agribisnis.

Ummat islam tak boleh berhenti dengan meratap. Aktivitas kreatif mestinya juga dikembangkan oleh ummat Islam. Lahan sisi kanan, konon belum dipakai HGU-nya. Saat ini ada teman muslim yang concern,  tampaknya salah satu murid Ihyaus Sunnah atau At-Turots Al-Islamy, dengan merintis pengembangan pendidikan, agribisnis dan radio muslim. Lahan masih luas, tantangan masih banyak, jadi masih diperlukan perhatian dan peran nyata ummat Islam.

Sekedar sebagai perbandingan, kalau di salatiga ada Salib Putih, di tempat lain ada Palang Biru yang mengambil peran dalam pelayanan kesehatan dan Palang Merah yang mengambil peran dalam aktivitas kemanusiaan. Diharapkan Muhammadiyah, Bulan sabit Merah Indonesia atau partai Dakwah bisa bahu membahu atau bermusabaqoh dalam kebaikan. fastabiqul khoirot!!!

Agama menjamin hak hidup manusia. Karenanya pembunuhan tanpa alasan yang benar adalah suatu kejahatan besar, bahkan dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan. Al-Maidah ayat 32 menyatakan : Barang siapa membunuh satu orang bukan karena dia membunuh orang lain atau karena dia berbuat kerusakan di muka bumi seakan-akan telah membunuh semua ummat manusia. Barang siapa memelihara kehidupan satu orang, seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua ummat manusia.

Sebagai ilustrasi,  eksekusi hukuman mati kepada seorang wanita  yang melakukan perzinaan (perselingkuhan) dilakukan oleh Rasulullah setelah anak wanita tersebut selesai mendapatkan haknya untuk mendapat penyusuan (ASI) selama dua tahun, meskipun wanita tersebut atas kesadarannya telah melaporkan perzinaannya ketika hamilnya belum jelas.  Dalam kasus itu, tampak agama melindungi hak anak itu yang dalam periode berikutnya juga dijamin hak tumbuh kembangnya secara sosial. 

Apa yang kita saksikan saat ini adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang sangat biadab. Tak cukup satu orang, lebih dari seribu orang dibunuh secara membabi buta oleh oleh Israel. Artinya, andaikata ada seribu bumi dengan masing-masing penduduknya seperti penduduk bumi kita, semuanya telah dibnuh oleh Israel. Bayangkan, membunuh penduduk seribu bumi! Sebuah kejahatan yang sangat besar, bahkan kejahatan terbesar saat ini.

Apa yang didemonstrasikan oleh Israel saat ini tidak hanya melanggar agama, tapi juga mengabaikan hukum perang internasional. Pembunuhan warga sipil, wanita dan anak-anak menjadi bagian yang menonjol pertunjukan drama kebiadaban Istarel. Penghancuran rumah sakit dan fasilitas umum menjadi saksi kejahatan perang Israel. Penjegalan terhadap relawan kemanusiaan dan penghancuran terhadap logistik bantuan kemanusiaan PBB adalah perilaku Israel yang sangat mengabaikan konvensi dunia tentang kegiatan kemanusiaan. Pengguanaan fosfor putih yang nyata-nyata dilarang dalam hukum perang internasional melengkapi pertunjukan kecongkakan dan kebiadaban Israel.  

Masyarakat dunia menyaksikan kejahatan itu dengan respons yang bervariasi. Ada yang tidak acuh dan sayangnya itu justru dilakukan oleh negara-negara Arab, yang notabene paling dekat dengan Palestina, wilayah maupun rasnya. Pengutukan dan pengecaman keras atas agresi Israel juga muncul di berbagai bagian dunia. Beberapa negara bahkan melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel. Demo anti Israel marak di mana-mana. Di amerika Serikat pun muncul demo-demo anti Israel, meskipun negaranya justru tidak acuh terhadap nasib korban kejahatan Israel. Amerika, bahkan tampak melindungi israel,  bahkan sekedar dari pernyataan kecaman. Di Indonesia sendiri, berbagai pernyataan dan ekspresi pengutukan atas agresi militer Israel dilakukan oleh berbagai kalangan di berbagai tempat. Partai politik,seniman, mahasiswa,  pelajar, bahkan anak-anak.  

Kembali merujuk ayat 32 surat al-maidah, maka semua upaya untuk memelihara kehidupan satu jiwa akan sangat dihargaia. Berbagai regulasi atau sikap politik yang memihak kemanusiaan termasuk Palestina dapat dilakukan oleh negara, termasuk pengiriman tentara ke palestina. Perang meskipun kita benci tetap saja merupakan alternatif pemecahan masalah, sehingga kita juga menghargai keputusasn Palestina untutk tetap berperang melawan Israel. Bukankah kemerdekaan Indonesia juga berdiri di atas wafatnya para syuhada dalam berbagai peperngan bangsa kita melawan penjajahan?  Bantuan makanan, bantuan obat, bantuan tenaga kesehatan dapat dilakukan oleh berbagai pihak, juga anda. Saya juga. 

Pengalaman dan pengamatan menunjukkan berkembangnya solidaritas untuk Palestina. Konser amal yang kerja sama Bulan sabit Merah Indonesia (BSMI) Pusat bersama TV ONE hanya dalam dua jam berhasil mengumpulkan dana kemanusiaan 2,2 milyar. roadshow BSMI Cabang Yogyakarta ke beberapa masjid, kampus dan sekolah menerima dan menyalurkan 30 juta rupiah lebih.

Semoga kejahatan israel membuka mata kita semua dan makin membentuk opini Israel sebagai common enemy dan musuh kemanusiaan. Trageddi Palestina menyakiti hati kita semua.

Akhirnya, kami sampaikan salah satu jalur untuk mengekspresikan solidaritas kemanusiaan anda. Silakan infaq melalui rekening BSMI Pusat atau BSMI cabang Yogyakarta. Di luar dana Palestina, kami juga menerima dana kemanusiaan yang lain, misalnya untu gempa Manokwari dan banjir Jawa Tengah. Rekening Bank Syariah Mandiri kantor Kas UMY No. 1550007491 a.n. dr. Bambang Edi Bdn BSMI Yogyakarta. Konfirmasikan infaq anda via SMS ke 0274-718-1234 atau 0812-274-96659

Pertanyaan tentang Islam itu simbol atau substansi pernah mengemuka beberapa tahun silam. Meskipun tidak secara verbal, pertanyaan ini nampaknya masih kerap hadir di antara kita. Hemat saya, Islam menekankan pentingnya substansi, pada ranah akidah maupun syariah, tetapi Islam juga memposisikan simbol atau lambang sebagai hal yang penting. Memelihara jenggot, misalnya bisa bermakna tradisi, trend ataupun ideologis (pelaksanaan sunnah dan menyelisihi identitas kaum lain). 

Lambang kemanusiaan, di dunia ini diakui dua macam, Palang Merah (Red Cross) dan Bulan Sabit Merah (Red Crescent). Demikian pula lembaganya. Sayangnya di Indonesia masyarakat belum banyak mengenal lambang maupun organisasi Bulan Sabit Merah. Maklum, PMI sudah ada sejak jaman kemerdekaan, sedangkan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) baru eksis di Indonesia sejak enam tahun silam. BSMI hadir sejak 8 Juni 2002, sudah mendapat SK Depkum dan HAM, akta notaris dan dalam proses perijinan sebagai suatu Perhimpunan.

Namun demikian, untuk mengokohkan eksistensi BSMI, diperlukan pengakuan legal formal dalam suatu undang-undang. Saat ini sedang dalam persiapan pembahasan RUU tentang kemanusiaan, atau kepalangmerahan. Minimal nama Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) disebut dalam salah satu pasalnya, sebagai lembaga kemanusiaan yang diakui di Indonesia, selain PMI.  

“Kita menjadi satu-satunya negara di dunia yang berpenduduk mayoritas muslim yang lambang kemanusiaannya adalah Palang Merah. Negara-negara yang non muslim, seluruhnya lambangnya adalah Palang Merah dan negara yang mayoritas muslim itu lambangnya Bulan Sabit Merah,” tegas Basuki.

 

Ayo, berikan dukungan Anda, dengan cara :

  1. Tuliskan pernyataan anda dalam satu kartu pos yang isinya :

1.1.   dukungan anda kepada keberadaan BSMI sebagai lembaga kemanusiaan di Indonesia selain PMI

1.2.    dukungan agar BSMI diakui dalam suatu undang-undang

1.3.  menolak penetapan palang merah sebagai satu-satunya lambang kemanusiaan di Indonesia

Cantumkan nama, alamat dan no KTP anda

Kirimkan Kepada : Komisi 3 DPR RI, Senayan, Jakarta

  1. Kirimkan kopi KTP anda ke BSMI Pusat di Jalan Dewi Sartika 19 Cililitan Jakarta Timur
  2. Ajak teman-teman lain melakukan hal yang sama.

 

Info lebih lanjut, silakan baca beberapa tulisan dasar tentang lambang bulan sabit merah di blog berikut : indonesianredcrescent.wordpress.com

Terima kasih. Tolong segera saja kirim kartu pos dukungan anda !Jangan sampai terlambat

(Maaf, corak tulisan kali ini beda, mengingat crucialnya masalah ini-Blogger)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. At Taubah : 20)

Minal ‘aidin wal faizin adalah untaian kalimat yang sangat populer di sekitar hari raya atau ‘idul fitri. Secara spontan masyarakat muslim Indonesia mengucapkan  kalimat tersebut dalam perjumpaan sekitar masa lebaran. Ungkapan ini jauh lebih populer daripada doa lebaran yang lebih standar, yakni taqobbalallahu minnaa wa minkum. Ada baiknya agar lebih “nyunnah” doa standar tersebut kita ucapkan sebelum menyatakan minal aidin wal faizin.

Secara bahasa, arti minal aidin wal faizin adalah “dari (golongan) orang- orang yang kembali dan yang mendapat keuntungan”. Jadi, sebenarnya, ia merupakan penggalan doa yang kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut : Semoga Allah Swt menjadikan kita sebagai bagian dari (golongan) orang-orang yang kembali (al ‘aa idun) dan yang mendapat kemenangan (al faaizuun)”. Dalam bahasa Arab, doa ini dapat dilafalkan sebagai berikut “Ja’alanallahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaizin”.

Ungkapan minal aidin menggambarkan keinginan kita agar dijadikan Allah sebagai bagian dari orang-orang yang kembali kepada fitrah, bukan sekedar kembali makan (ifthar = buka) setelah berpuasa. Sementara itu, ungkapan wal faizin mewakili harapan kita untuk menjadi pemenang atau mendapat kemenangan hakiki, yang berkaitan dengan keberhasilan proses pembajaan selama Ramadhan yang merupakan bulan bakti (bulan amal shalih) sekaligus bulan pendidikan (tarbiyah).

Rasulullah menggambarkan keberhasilan puasa sebagai kembalinya sang pelakunya kepada sifat-sifat fitri sorang bayi yang baru dilahirkan. Kembalinya fitrah ini dapat dikaitkan dengan bersihnya hati dari dosa karena amal shalih selama Ramadhan dijanjikan akan menutup dosa pelakunya sebagaimana disabdakan Rasul. Kembali kepada fitrah juga dapat dikaitkan dengan kokohnya tauhid sebagaimana kokohnya jawaban kita atas sebagaimana kokohnya jawaban kita atas pertanyaan Allah di saat kita belum dilahirkan “alastu birobbikum?” (apakah engkau akui bahwa AKU Rabbmu?).   

Adapun kemenangan, dapat dihubungkan dengan berbagai jenis kemenangan hakiki sebagaimana disebut dalam Al-Quran, di antaranya adalah : derajad yang tinggi di sisi Allah (QS at taubah:20), ridha Allah (QS at taubah:72), surga (QS at Taubah: 100), dan karunia dari Allah (QS. Ad dukhon: 57). Kemenangan juga dikaitkan dengan sifat-sifat baik, yang dikembangkan selama Ramadhan, yakni: ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (QS al Ahzab:71), memprioritaskan Allah daripada kecenderungan atau selera pribadi (At-Taubah:24), kesabaran (QS Al mu’minun:111), serta takut dan ketaqwaan kepada Allah (QS an Nur: 52).       

Pada hari ini ummat Islam merayakan hari besarnya, tidak dengan berpesta pora melainkan dengan lantunan takbir, tahlil dan tahmid dan dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri serta saling mendoakan dengan ungkapan taqobbalallahu minnaa wa minkum. Secara kultural Idul Fitri juga diisi dengan silaturahim, saling meminta dan memberi maaf. 

Lantunan takbir tahlil dan tahmid, dengan penghayatan yang benar sesungguhnya merupakan kalimat tauhid, yang maknanya membesarkan, mengesakan dan memuji Allah, untuk hidayah dan ni’mat yang telah diberikan kepada kita:

 “…Dan hendaklah kamu cukupkan bilangannya dan hendaklah kamu kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS 2:185)

Pasca Ramadhan, muslim seharusnya memiliki tauhid yang mantap, sehingga akan menjadikan cintanya kepada Allah dan Rasulullah sebagai prioritas dibandingkan dengan cintanya kepada selain itu. Ketundukan dan ketaatan kepada Allah diharapkan menjadi hasil utama pendidikan selama Ramadhan.

Shalat Idul Fitri merupakan cermin ketundukan kita kepada Allah sekaligus forum silaturahim ummat. Bersatunya kegiatan ibadah dengan sosial makin lengkap dengan silaturahmi di antara muslim dengan doa khas hari raya : Taqobbalallahu minnaa wa minkum.

Doa tersebut menggambarkan kerendahan hati, bahwa apapun yang telah kita kerjakan selama Ramadhan, hendaknya kita sandarkan kepada ridho Allah Swt, agar DIA menerima amal kita, bahkan menutup kekurangannya. Doa berikuit menggambarkan harapan itu : Robbana taqobbal minnaa sholaatana wa shiyaamanaa wa rukuu’ana wa sujuudana wa qu’uudana wa tadlara’anaa wa tammim taqshiirana ya Allah ya Robbal ‘alamiin.

Demikianlah cara kita mengisi hari raya. Tidak dengan bergembira ria yang berlebihan. Bahkan Rasulullah Saw pun menyarankan puasa sunnah di bulan Syawwal. Maha suci Allah yang mendidik kita dengan cara yang indah.

Ramadhan telah berlalu, dan kitapun akan menapaki bulan-bulan berikutnya, Insya allah, entah sampai kapan, saat kita akan dijemput kembali untuk menghadap Allah. Karenanya marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing : bagaimanakah amal-amal kita di luar Ramadhan ?

Ada baiknya kita mencoba untuk memaknai hidup ini dengan menapaki jejak-jejak Ramadhan, sehingga idealitas dan idealisme yang kita bangun selama Ramadhan tidak hancur. Karenanya akan kami ringkas beberapa nilai dan hikmah mengenai makna hidup yang kita petik dari Ramadhan :

1. Pendidikan jiwa

Pendidikan jiwa (tarbiyatunnafs) berarti mendidik jiwa kita, jiwa keluarga dan masyarakat kita menuju jiwa yang tenang, penuh kesyukuran, keshabaran dan ridho atas apa yang diberikan Allah, keikhlasan untuk meninggalkan apa yang diharamkan Allah Swt, bahkan meninggalkan hal-hal yang tidak jelas manfaatnya, sekalipun halal, termasuk perbuatan-perbuatan yang selama inii dikategorikan sebagai kemakruhan.

Atas alasan ini pula kami mendukung RUU anti-pornografi dan menyayangkan adanya pihak-pihak tertentu yang menyuarakan penolakan terhadap RUU tersebut dengan cara tidak fair, yakni memelintir pengertian-pengertian yang ada dalam RUU tersebut. Mereka yang menolak RUU tsb tidak menghormati proses yang sudah berlangsung dan telah melakukan kekeliruan berpikir dan jauh dari pemahaman dasar atau spirit isi RUU tsb yang dimaksudkan untuk menyelamatkan moral bangsa dari ancaman pornografi.

2. Semangat beragama (relijiusitas)

Patut dsyukuri selama Ramadhan relijiusitas ummat meningkat, bahkan hal itu tampak juga di kalangan artis, yang ditandai dengan tampilnya mereka dengan busana muslimah, maraknya lagu-lagu pop reliji, di samping nasyid-nasyid yang menggugah hati. Semoga hal itu bukan sekedar tampilan yang sangat situasional apalagi sekedar respons terhadap pasar, tetapi awal yang serius untuk perbaikan terus menerus.  

3. Semangat menimba ilmu dan Mengkaji Al Quran

Kegiatan pendalaman agama menjadi menu Ramadhan di berbagai masjid dan mushala, bahkan di lingkungan kantor. Kuliah Subuh, kuliah dhuhur dan pesantren kilat mengemuka. Semangat menimba ilmu agama seyogyanya dipertahankan pasca Ramadhan. Kunjungan para wanita ke masjid jika dikaitkan dengan motif mengaji menjadi cukup penting untuk ditingkatkan. Tadarrus Al Quran yang menjadi aktivitas Ramadhan seyogyanya ditlanjutkan dan dilengkapi dengan kajian maknanya, bahkan tafsirnya.  

4. Semangat memakmurkan masjid

Berakhirnya Ramadhan tidak boleh membuat kita menjadi jarang mengunjungi masjid/mushala. Abdullah bin Ummi Makhtum adalah shabat Nabi yang rajin ke Masjid meskipun buta dan rumahnya jauh dari masjid.

 
5. Solidaritas sosial

Ibadah Ramadhan disertai semangat bershadaqah seyogyanya bermuara pada penumbuhan dan pemantapan rasa tanggung jawab sosial. Karena itu sesudah Ramadhan berakhir, semestinya semakin mantap rasa tanggung jawab sosial kita.

Kesehatan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam konsep sehat dalam Islam, yakni kesehatan fisik, jiwa dan sosial. Dalam posisi apapun, kepekaan dan solidaritas sosial itu menjiwai gerak langkah kita. Mereka yang menjadi wakil rakyat tidak melupakan dan meninggalkan rakyat yang mereka wakili. Kita yang menjadi rakyat juga memiliki solidaritas, toleransi dan saling membantu,  karena seorang muslim dengan muslim lain adalah ibarat bagian bagian bangunan yang saling mengokohkan (yasyuddu ba’dohu ba’don)

Berdasar nilai-nilai kehidupan yang kita petik selama Ramadhan itu, perkenankanlah saya berharap dan menghimbau akan hadirnya masyarakat yang agamis, peduli dengan pendidikan jiwa, bersemangat dalam pengembangan ilmu, yang hatinya terikat kepada masjid dan sekaligus memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Kita juga berharap akan tampilnya sebuah konfigurasi kepemimpinan bangsa dan negara yang siap dan memiliki kecakapan untuk membangun bangsanya dengan watak religiusitas yang kokoh, intelektualitas yang tinggi, penuh solidaritas pada sesama, dan bersikap profesional. Itulah yang diperlukan untuk mengawal reformasi, yang seharusnya merupakan proses transformasi multidimensi menuju kebaikan, bukan sebaliknya menuju kerusakan. 

Allah Swt berfirman dalam surat Ali Imron ayat 104;

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”

 

Namanya Arzaky, anak lelaki itu berusia 8 tahun, namun membuat kesan khusus untuk saya Dia pasien saya di salah satu rumah sakit tempat saya bekerja sebagai dokter anak. Menjelang Ramadhan, dia saya rawat karena serangan sama berat. Dua hari sebelum Ramadhan dia sudah membaik dan saya pulangkan. Hari ini, 4 ramadhan dia kontrol sambil membawa rasa takut atau khawatir untuk bertemu dengan saya, dokternya. Menarik, Arzaky takut bertemu saya bukan karena takut disuntik, tetapi khawatir tidak diperbolehkan puasa. Subhanallah! Rupanya sepulang dari perawatan di rumah sakit, dua hari kemudian dia berpuasa karena mendapati bulan Ramadhan. Puasanya sampai maghrib sebagaimana keluarganya.Dia kuatir disalahkan karena sudah mulai berpuasa dan dia lebih kuatir lagi jika pada hari selanjutnya dilarang puasa.

Kisah Arzaky adalah kisah sebuah semangat beragama yang indah. Rasanya sebagai orang dewasa kita perlu merasa malu melihat semangat beribadah seorang anak berusia 8 tahun dan baru saja dirawat inap. Sebagai dokter muslim saya mendorong agar dia tetap berpuasa sembari mengingatkan perlunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Untuk anak sekecil dia, saya juga menyarankan makan kudapan (snack) menjelang tidur. Dengan cara itu, Insya Allah puasanya akan sukses dan status gizinya Insya Allah tidak akan terganggu. Semangat beragama yang tinggi juga pernah saya jumpai pada warga Kepakisan sekitar tahun 1988, sebuah desa di atas dataran Dieng; mereka bersemangat membayar zakat pertanian, bahkan dalam kondisi paceklik, karena memegang motto yang sangat menarik: jika di dunia rugi, kami tak mau merugi di akhirat! Di desa Kepakisan pula saya menyaksikan semangat ibu-ibu petani untuk konsisten mengenakan busana muslimah (berjilbab) ketika bertani di sawah mereka. Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, kecuali pada sebuah gambar wanita petani di Iran. 

Seperti telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, puasa jika dilaksanakan dengan baik, dengan memperhatikan rambu-rambu dan sunnah-sunnahnya tidak akan menggangu kesehatan. Puasa juga relatif tidak menambah angka morbiditas dan mortalitas, bahkan untuk beberapa macam penyakit atau kondisi, semisal dislipidemia (profil lemak darah yang tidak ideal), puasa justru akan berdampak positif. Barangkali isu ini berlawanan dengan fenomena maraknya iklan obat sakit maag (gastritis) menjelang dan selama Ramadhan. Iklan obat maag semacam itu dapat dikatakan merupakan hal yang salah kaprah, untuk tidak menyatakan suatu kesalahan besar. Gastritis atau sering disebut sakit maag umumnya disebabkan oleh meningkatnya sekresi asam lambung akibat kecemasan atau keterburu-buruan (grusa-grusu), sehingga puasa Ramadhan yang umumnya meningkatkan ketenangan pelakunya justru akan memperbaiki (menyembuhkan) sakit maag. Akan jadi masalah bila sakit maag yang diderita seseorang sudah cukup parah. Dalam situasi demikian, maka ulama menganjurkan agar sebelum memutuskan untuk berpuasa atau tidak, orang tersebut perlu berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis yang beragama Islam. Lebih baik lagi apabila dicari pendapat dokter kedua sebagai pembanding.

Kembali pada puasanya anak-anak. Di awal Ramadhan ini saya juga mempunyai pengalaman berharga untuk menjaga semangat puasanya anak saya yang berusia 7 tahun. Saya berkeyakinan, jika dia sukses puasa pada hari pertamanya, maka pada hari-hari selanjutnya akan terasa mudah. Dalam hal ini saya bersyukur, bahwa pada hari pertama puasa, kantor saya, UMY, meliburkan pegawainya. Libur itu ternyata sangat bermanfaat, bukan untuk meringankan puasa para pegawai, tetapi dengan libur itu saya mendapat kesempatan untuk mendampingi anak-anak untuk melampaui hari pertama puasa mereka. Anak-anak memang membutuhkan pendampingan, bukan sekedar motivasi. Peran keteladanan dan persoalan-persoalan tumbuh kembang anak dapat dibaca pada tulisan lain, dalam blog saya yang lain. (bambangedi.blogspot.com)

Seorang modern selalu berpandangan ke depan. Nasihat yang menarik untuk topik kali ini adalah “Mulailah dari yang akhir!”, yang mengingatkan kepada kita semua agar kita selalu memikirkan tujuan jangka panjang kita sebelum memulai langkah-langkah kecil kita. Dalam bahasa manajemen, visi dan tujuan suatu organisasi atau pribadi harus ditetapkan, sebelum program kerja jangka pendek. Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mampu menunda keinginan, menyiratkan kita untuk memupuk dan memanen masa depan, tak hanya menikmati hari ini.

Visi dibentuk melalui aktivitas envisioning, bagaimana seseorang melihat lingkungannya, menatap masa depannya dan menterjemahkan filosofi hidupnya menjadi orientasi dan cita-cita hidupnya. Bagaimana dengan visi seorang muslim  atau visi kolektif ummat Islam ?. Dalam Al-Quran, disebutkan idealita hidup berupa dua macam keunggulan (hasanatain), yakni “hasanah fid-dun-ya dan hasanah fil-akhiroh”. Dua keunggulan tersebut didudukkan dalam formula yang unik: bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia (walal akhirotu khoirul laka minal ula) dan juga lebih kekal (wal akhirotu khoiruw wa abqo), tetapi manusia tidak boleh melupakan dunia ( wa laa tansa nashibaka minaddun-ya). Orientasi ini sangat jelas, sehingga seorang muslim akan menggenggam dunia di tangannya, bukan di hatinya, karena hatinya penuh dengan akhirat.

Dengan demikian, kekayaan bagi seorang muslim adalah alat ibadah, sebagaimana rukuh atau sajadah yang biasanya direpresentasikan sebagai alat ibadah. Dengan hartanya Nabi dan sahabatnya menebus dan membebaskan budak, membebaskan saudaranya dari ekonomi, menyembelih korban, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Demikian pula generasi sesudahnya.

Secara kolektif, visi ummat dapat dirumuskan dari ungkapan menjadi “khoiru ummah”, ummat terbaik atau –dalam bahasa Muhammadiyah–masyarakat utama. Ummat seharusnya maju dan mandiri di semua bidang. Unggul secara ekonomi dan kebudayaan. Sehat secara jasmani dan ruhani.

Visi tersebut menghajatkan keseriusan kita untuk menyiapkan masa depan. Allah swt membentuk visi muslim dengan ungkapan yang menggugah perhatian: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dikerjakan untuk hari esoknya”.

Seorang muslim, karenanya tidak pernah berfikir jangka pendek. Langkahnya jauh ke depan, dengan berpijak pada masa kininya serta belajar dari pengalaman masa lalunya. Nabi Muhammad Saw mengajak ummatnya untuk selalu memperbaiki kualitas dengan ungkapannya yang terkenal “Merugilah orang yang keadaan hari ini sama dengan kemarin dan celaka bagi mereka yang hari ini lebih jelek daripada kemarin”. Ini sejalan dengan konsep continous improvement dalam ilmu manajemen.

Secara demikian dapat difahami ummat Islam dituntut menjadi ummat yang futuristik dan dinamis. Ummat harus bekerja keras tapi juga cerdas, untuk mengkreasi masa depan. Sayangnya, kesempatan kita sesungguhnya sangat terbatas, karenanya jangan sampai kita terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan: terpaksa masuk ke hari esok tanpa sempat mengisi hari ini. Bersyukur kita mempunyai nasihat abadi Nabi: “Jagalah kesempatan sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum  miskin, sehat sebelum sakit dan hidup sebelum datangnya kematian”.


Menyampaikan pesan, apalagi suatu perintah ada seninya, agar yang menerima pesan atau perintah itu bersedia melakukan apa yang kita minta dengan kelegaan hati. Dalam kesempatan ini kita akan belajar dari cara Allah mengkomunikasikan kewajiban puasa, sebagaimana dapat kita baca pada surat albaqarah dan ayat-ayat lain yang terkait.

Pertama, bukalah komunikasi dengan menyampaikan sapaan atau panggilan yang lembut dan menyenangkan hati. Dalam ayat puasa, Allah memulai komunikasinya dengan seruan “Wahai orang-orang yang beriman”, sehingga dampaknya dapat kita lihat: hampir semua ummat Islam tergerak untuk menjalankan ibadah puasa. Luqman al Hakim, sang bijak bestari memulai pembicaraan bersama anaknya dengan “Wahai anakku” (Yaa bunayya). Demikian pula Nabi Ibrahim membuka berita besar tentang kewajiban penyembelihan anak kinasihnya dengan “Wahai, ananda” (Yaa abati). Sebutan penghormatan banyak digunakan dalam komunikasi Nabi Muhammad SAW bersama para isteri dan sahabatnya, sebaliknya pemberian sebutan (Jawa: paraban) yang tidak baik dilarang oleh Allah dan Nabi Muhammad SAW. Dengan awalan yang baik, maka kita akan terhindar dari situasi yang tidak menyenangkan: berbicara kepada mereka, dan mendapatkan situasi yang lebih menarik: berbicara bersama atau dengan mereka.

Kedua, menyampaikaan pesan atau perintah dengan bahasa yang halus. Ungkapan pasif kerap kali memberi nuansa lain sebagai variasi ungkapan aktif. Dalam ayat puasa, Allah menggunakan gaya bahasa pasif “telah diwajibkan berpuasa (ramadhan) atas kalian semua”. Nabi Ibrahim menyampaikan pesannya dengan gaya bercerita dan dialogis “Aku melihat dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu,bagaimana pendapatmu? ”. Gaya bertanya banyak digunakan Nabi Muhammad, misalnya “Sahabatku sekalian, apakah yang Anda semua ketahui tentang…?”. Gaya ini cukup menggugah perhatian dan minat orang yang diajak bicara. Namun demikian, prinsip umum yang mesti kita pegang adalah menggunakan bahasa yang dapat difahami oleh penerima pesan kita. Prinsip ini menghajatkan pemahaman yang baik tentang karakteristik orang yang akan kita ajak bicara (watak, kebiasaan, intelektualitas, dan sebagainya).

Ketiga, ada baiknya jika kita mencoba memberikan informasi tambahan agar penerima pesan merasa ringan untuk menjalankan pesan atau perintah itu. Dalam ayat puasa, Allah memberi informasi, bahwa ummat terdahulu juga telah menerima perintah puasa. Dengan informasi ini, kita merasa, bahwa kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada kita saja, ummat terdahulu juga mendapat beban yang sama dan mereka mampu melakukannya.

Keempat, menjelaskan tujuan, maksud atau bahkan manfaat diperintahkannya suatu perbuatan. Dalam ayat puasa misalnya, Allah menjelaskan, bahwa tujuan puasa adalah agar ummat menjadi bertaqwa. Jadi seyogyanya apabila kita memberi perintah kepada anak kita atau kepada siapa saja, sertai dengan penjelasan maksud, tujuan atau manfaatnya. Tidak bijaksana jika kita menggunakan bahasa “pokoknya harus”, atau “kamu tidak perlu tahu mengapa harus begitu!”, karena hal itu mencerminkan ketidaksiapan kita untuk berdialog.

Jadi, beralihlah kepada komunikasi efektif dan santun sebagaimana dicontohkan Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu makna shabar adalah shabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Tetap konsisten dalam melaksanakan ibadah andaikata harus sendirian, tetap ikhlas di keramaian, shabar menghadapi godaan dan yang ingin diwacanakan melalui tulisan ini adalah : mengembangkan sikap toleran.

Seorang yang berpuasa dan mendapati orang lain yang nyata-nyata menantang dianjurkan untuk tetap bershabar dan membuat sebuah pernyataan : sesungguhnya aku dalam keadaan puasa! (innii shoimun). Apakah pantas kita mudah marah kepada orang lain yang makan ataun minum di siang hari di bulan Ramadhan. Apakah kita merasa perlu mencari musuh dengan, misalnya melakukan tindak pemaksaan penutupan rumah makan di siang hari dengan alasan menghormati bulan Ramadhan ?

Himbauan untuk menghormati bulan puasa seyogyanya kita tujukan kepada kita sendiri. Gembira mendapatkan momentum Ramadhan yang menurut penuturan Sang Rasul membuka peluang rahmat, barokah dan maghfirah dari Allah. Wujud kegembiraan itu antara lain tampil dalam bentuk semangat melaksanakan ibadah dan amal shalih di siang hari maupun di malam hari. Demikian pula gerakan untuk mengakrabi Al Quran yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai petunjuk hidup. Menjauhi tindak ma’shiyat atau kondisi-kondisi yang mendekatkan kepada mashiyat menjadi pelengkapnya. Demikianlah cara kita menghormati bulan puasa. Hal-hal demikian kiranya lebih baik daripada kita menuntut orang lain menghormati bulan puasa.

Dengan sikap toleran, seorang yang berpuasa tidak mudah tersinggung jika mendapati orang yang makan di siang hari, karena kita tidak tahu apakah orang itu seorang muslim yang dikenai kewajiban puasa atau bukan muslim yang tentu saja tidak diwajibkan puasa. Bahkan, kita tidak tahu, jangan-jangan mereka yang kita dapati sedang makan minum di siang hari adalah saudara kita sesama muslim yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) yang oleh Al-Quran sendiri diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Jadi, jangan mudah tersinggung atau buru-buru marah. Puasa kok marah! Shabar!

Andaikata ada muslim yang tidak berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan, maka kewajiban kita sebagai sesama anggota masyarakat (ummat) hanyalah sebatas memberi nasihat atau peringatan agar orang tersebut mau berpuasa. Kita sampaikan dengan cara yang baik, bahwa meninggalkan puasa satu hari saja tanpa alasan yang dibenarkan syariat tidak akan tergantikan dengan melakukan puasa selama satu tahun. Kita sampaikan, bahwa puasa adalah kewajiban orang tersebut, agar menjadi bertaqwa. Sangat baik, jika kita bersedia mendoakan mereka agar mau bertobat, mendapat petunjuk Allah sehingga mau beribadah. Nahnu du’at, laisal qudhat. Kita hanyalah da’i (penyeru kepada kebajikan) bukan hakim yang berhak menghukum mereka.

Ramadhan mendidik kita untuk mengembangkan keshabaran yang indah, dada yang lapang, sikap yang toleran yang merupakan sebagian dari karakteristik kepribadian muslim.

Adalah menarik, bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah surat al aAlaq yang dimulai dengan perintah membaca (Iqra), yang juga menegaskan, bahwa pena (al-qalam) adalah sarana pengajaran pengetahuan kepada manusia tentang hal-hal yang belum diketahui (QS. Al-Alaq : 1-5). Selain substansi utamanya, dari ayat di atas dapat dipetik hikmah bahwa ummat sepatutnya mengembangkan budaya membaca dan menulis. Informasi menarik lainnya adalah bahwa setiap bulan Ramadhan Rasulullah SAW selalu melakukan tadarrus al-Quran bersama malaikat Jibril, mereview (membaca dan mengkaji) ayat-ayat yang pernah diturunkan.

Membaca berarti membuka jendela dunia, yang dengannya kita mendapatkan berbagai informasi. Tak kurang Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa menulis atau mencatat adalah buhul ilmu. Karenanya, tak rugi jika pena selalu menemani ke manapun kita melangkah. Termasuk dalam pengertian ini adalah berbagai alat bantu perekam informasi. Adapun menulis, setidaknya ia mempunyai dua tujuan, yakni pertama, mengikat informasi yang kita peroleh sehingga tidak mudah hilang dan memudahkan kita untuk mendapatkannya kembali secara mudah ketika kita membutuhkannya dan kedua, adalah menyediakan media untuk membagikan informasi kepada orang lain.

Ketika ummat kehilangan tradisi membaca dan menulis, maka ummat akan mengalami kemunduran. Informasi tidak dikuasai dengan baik dan bahkan ummat dapat dipermainkan oleh pihak lain yang menguasai informasi. Karenanya, ada baiknya jika kita menetapkan target jam membaca baik untuk bidang keilmuan / bidang pekerjaan kita maupun membaca informasi di luar bidang keilmuan / bidang pekerjaan kita. Dengan kebiasaan membaca ini penguasaan akan bidang keilmuan kita semakin dalam dan luas dan kita tidak akan kehilangan informasi bidang lain, yang memungkinkan kita lebih gaul.

Beruntung, bahwa pada saat ini teknologi informasi memungkinkan kita untuk melakukan penelusuran informasi yang sangat luas dan hampir-hampir tidak terbatas. Berbagai sumber informasi dari seluruh dunia dapat kita akses melalui internet dengan cepat dan biaya yang relatif murah.

Namun demikian, kemudahan ini bukannya tanpa ekses negatif. Banjirnya informasi boleh jadi suatu saat membuat kita menjadi bingung, karena di samping informasi yang bermanfaat, dalam dunia maya ini juga tersedia banyak informasi yang bersifat sampah (tak berguna), bahkan mungkin toksik (beracun).  Bagaimanapun, orang beriman tidak boleh menjadi bingung atau bengong, karena di antara ciri orang yang beriman adalah pandai memilah dan memilih informasi sebagaimana disebutkan dalam ayat 18 surat az- Zumar. Momentum Ramadhan, mengingatkan kita untuk mengembangkan tradisi membaca, verifikasi informasi dan menulis.

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”

Halaman Berikutnya »