Bismillah

          Tulisan ini adalah tulisan pertama di blog ini. Pemanasan barangkali tepat, ibarat kita akan melakukan olah raga, pemanasan akan membuat tubuh kita lebih siap. Memasuki bulan Rajab, ada fenomena pemanasan yang kita lihat dari sejarah hidup Rasulullah Saw. Diberitakan dalam sebuah hadist sahih, bahwa pada bulan Sya’ban Nabi Muhammad Saw memperbanyak puasa sunnah, sehingga Sahabat beliau pun berkomentar: Tidaklah Rasulullah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada di bulan Rajab dan Syaban. Selain sebagai ibadah, Rasulullah tampaknya memahami perlunya pemanasan menjelang Ramadhan, agar ummatnya lebih siap melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan yang agung itu. Anak-anak sangat baik untuk diajak melakukan pemanasan dengan melaksanakan puasa Senin Kamis atau hari apa saja agar pada saatnya anak-anak dapat menikmati Ramadhan tanpa banyak keluhan. Subhanallah. Terasa begitu manusiawinya teladan Nabi.

          Latihan memang pada umumnya diperlukan sebelum melakukan suatu kegiatan yang relatif memberikan stres. Di dunia olah raga kita mengenal istilah pemanasan (warming up) sebelum berolahraga atau pertandingan yang sebenarnya. Latihan juga diperlukan bagi para calon hajji mengingat situasi dan kondisi yang akan dihadapi selama perjalanan dan selama di tanah suci relatif akan memberikan stres, terutama stres fisik. Suhu udara yang tinggi, kelembaban yang rendah dan kepadatan manusia adalah kondisi utama yang akan dihadapi calon hajji, sehingga calon jamaah hajji dianjurkan untuk melakukan latihan fisik dan aklimatisasi, dengan cara membiasakan berjalan di siang hari dengan jarak tempuh yang semakin bertambah dan waktu tempuh yang semakin kecil (jarak dan kecepatan bertambah secara bertahap)   

          Nabi Muhammad rupanya sangat memahami, bahwa berpuasa selama satu bulan bukanlah tugas yang ringan, baik dari segi fisik maupun mental, sehingga diperlukan pengkondisian atau pemanasan. Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban merupakan metoda yang dipilih Nabi dan dari hal ini kita dapat merasakan betapa Nabi ( baca: Islam ) sangat memahami fitrah manusia, baik potensi positif maupun kelemahannya.

          Puasa Ramadhan itu sendiri pada hakikatnya adalah suatu latihan, sehingga Ramadhan disebut bulan pendidikan atau latihan, di samping juga bulan bakti. Perilaku kita selama Ramadhan diharapkan menjadi miniatur kehidupan kita selama hidup: selalu ingat kepada Allah (hukum, norma atau aturan-Nya), disiplin dan berhati-hati dalam bersikap dan selektif dalam jenis dan pola makan (memperhatikan prinsip kehalalan, kualitas dan kecukupan jumlah) serta peduli terhadap orang lain, terutama mereka yang papa. Sikap hidup yang dikembangkan selama Ramadhan diharapkan mempengaruhi sikap hidup di bulan-bulan lainnya, sehingga kualitas hidup kita meningkat dari tahun ke tahun. Itu sebabnya bulan setelah Ramadhan disebut dengan bulan Syawwal, yang artinya meningkat, dengan tujuan akhir membentuk sikap taqwa.

          Ketaqwaan adalah idealitas yang berdimensi luas, di antaranya adalah sikap hati-hati, sebagaimana dijelaskan oleh sahabat Nabi, dengan ungkapannya “taqwa itu ibarat berjalan di jalan yang kecil dan penuh duri”. Al- Quran menandaskan, bahwa menjalankan ibadah adalah cara yang utama untuk mewujudkan ketaqwaan dan berpuasa adalah salah satu ibadah yang dimaksud. (Wahai segenap manusia, beribadahlah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kamu menjadi bertaqwa. Al Baqarah:21). Hadist Nabi menegaskan, iman akan bertambah dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan akan berkurang karena perilaku ma’shiyat.

          Jadi, jika taqwa menjadi idealitas yang dituntut Islam , Islam telah memberikan metoda pencapaiannya (Al-Islamu syir’atun wa minhaajun).  Dalam beberapa hal, bahkan tata cara pencapaiannya diberikan secara terinci. Inilah salah satu kelebihan Islam dibandingkan dengan sistem hidup lain. Dengan metoda yang jelas, kita tidak perlu bingung dan mencari alternatif lain jika ingin mewujudkan idealitas itu.

Pemanasan lain menjelang Ramadhan adalah membaca doa. Marhaban Yaa Ramadhan yang dibaca pada senja hari terakhir di bulan Sya’ban adalah momentum terakhir bagi kita untuk mengekspresikan kesiapan kita menyambut Ramadhan. Sebelum itu, Rasulullah memberikan contoh doa yang sangat menarik untuk disimak dan diamalkan. Allahumma baarik lanaa fii rajab wa sya’ban wa ballighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah (umur) kami hingga Ramadhan.

Simpulan

Kesiapan menyongsong Ramadhan sudah dikondisikan secara fisiologis (fisik) dan psikologis sejak dua belum sebelum kedatangan tamu agung itu. Rasulullah saja melakukan pemanasan, apakah kita tidak ingin melakukannya? (Orang muda bilang : Puasa Sunnah dan doa jelang Ramadhan, Gue bangets!)  

Besok kita bincangkan lagi beberapa aspek terkait puasa, Insya Allah. Sebelumnya silakan amalkan dulu tips warming up di atas. Semoga sukses selalu menyertai Anda. Amiin

          Informasi blog kami yang lain, silakan kunjungi

bambangedi.blogspot.com dan

anaksehat.blogdrive.com