PUASA DAN KESEHATAN

Manfaat puasa untuk kesehatan sudah banyak diteliti, dan hasilnya cukup menakjubkan. Di antara manfaat puasa yang telah terbukti adalah memperbaiki profil lemak dan kolesterol tubuh, memperbaiki obesitas, mengendalikan tekanan darah. Sakit maag (gastritis) justru membaik dengan puasa, yang dapat difahami karena puasa memperbaiki pengendalian emosi yang selanjutnya mengurangi sekresi asam lambung. Karenanya, di dunia Barat dikenal adanya puasa sebagai suatu metoda terapi untuk beberapa jenis penyakit tertentu (therapeutic fasting).

Maha sucilah Allah yang telah mewajibkan puasa untuk kita, karena ternyata puasa juga memberikan banyak manfaat atau hikmah untuk kita. Meskipun begitu, apa yang kita bicarakan sejak awal adalah hikmah atau manfaat puasa, bukan tujuan puasa. Jadi, kita harus menjaga kemurnian niat puasa kita: hanya untuk Allah, agar menjadi orang bertaqwa, sebagaimana ditegaskan dalam ayat puasa “Wahai orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu sekalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Sebenarnya tak terlalu salah jika puasa dikaitkan dengan kesehatan, karena sekian lama ummat Islam mengenal hadist “shuumu tashihu”, yang artinya “berpuasalah, niscaya kamu sehat”. Sayangnya, menurut penelitian ahli hadist, kedudukan hadist ini ternyata lemah. Karenanya, motivasi puasa harap dimurnikan sesuai teks ayat puasa, yakni untuk membentuk manusia yang bertaqwa. Puasa seharusnya berdampak kepada kesehatan ruhani kita, membebaskan kita dari berbagai penyakit hati. Bukankah selama Ramadhan kita dilatih untuk disiplin, tidak berbohong, tidak menggunjing, tidak egois dan sebagainya? Puasa juga seharusnya berdampak kepada kesehatan sosial, karena selama Ramadhan kita bisa merasakan lapar sebagaimana orang miskin merasakan lapar.

Motivasi berpuasa memang beragam, tetapi puasa seorang muslim adalah hanya untuk Allah. Puasa kita bukan untuk untuk diet, menurunkan kolesterol atau untuk mengobati penyakit kita lainnya. Puasa kita juga bukan untuk “meluluhkan hati orang” atau agar sekolah anak kita lancar, atau untuk kelancaran karir, seperti yang sering disebut di sementara kalangan. Ada pula segolongan anak muda yang saking bersemangatnya membela rakyat, menulis spanduk ramadhannya dengan ungkapan khas anak muda “Puasa untuk rakyat”.

Untuk menjaga kemurnian motivasi ibadah puasa, mari kita cermati penegasan Allah swt “Puasa itu untuk-Ku”. Pengetahuan kita tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan bukan untuk membelokkan motivasi kita, melainkan memantapkan puasa kita dan memantapkan rasa syukur kita kepada Allah, bahwa ternyata meskipun Allah menegaskan bahwa puasa adalah untuk-Nya, ternyata kita juga mendapat manfaat, tak hanya di akhirat kelak sebagaimana dijanjikan Rasulullah tetapi juga di dunia. Jadi, silakan mengeksplorasi hikmah puasa untuk kesehatan atau dari aspek lainnya, sesuai dengan minat dan keahlian kita dan kita akan semakin takjub dengan temuan kita. Akan tetapi, puasa kita hanyalah untuk Allah. Lillahi ta’ala, karena iman dan mengharap ridho-Nya (iimaanan wahtisaaban). Semoga.