Islam sangat menekankan keseimbangan (tawazun) dalam berbagai hal. Secara alamiah, segala sesuatu ada dalam keseimbangan, manusialah yang kerap kali mengganggu keseimbangan itu, karena ketidaktahuannya atau kesengajaannya. Ekstrimitas tidak dikehendaki dalam Islam. Ketika seorang sahabat Nabi menyatakan akan terus menerus berpuasa tanpa berbuka, shalat malam dan tidak tidur, maka Nabi meluruskan dan memberikan penegasan, bahwa tubuh kita mempunyai hak untuk mendapat makanan, tidur dan kebutuhan fisiologis lainnya. Demikian pula dtegaskan, bahwa isteri sahabat tersebut mempunyai hak untuk mendapat perhatian dan kasih sayang dari suaminya.

Untuk puasa, Nabi menekankan perlunya makan sahur dan menyatakan bahwa lebih baik mengakhirkannya serta menganjurkan untuk mempercepat berbuka puasa jika telah tiba waktunya. Nabi juga menegaskan larangan puasa ngebleng (yakni puasa tanpa berbuka) bagi seorang muslim.

Keseimbangan juga dikehendaki dalam relasi antara suami dan isteri, anak dan orang tua, pemberi dan penerima, penghutang dan pemberi hutang dan sebagainya, yang akan diulas secara ringkas.

Soal keseimbangan juga tampak dalam gugatan kaum feminis tentang superioritas kaum lelaki atas kaum perempuan. Gugatan tersebut dipicu oleh pemahaman yang tidak utuh tentang relasi kedua gender itu ditambah dengan realitas sosial yang tidak sesuai dengan konsep Islam. Di kalangan sebagian muslim, misalnya¬† hadis tentang kewajiban seorang isteri untuk taat kepada suami jauh lebih terkenal daripada hadis Nabi yang menegaskan, bahwa suami yang mulia adalah suami yang memuliakan isterinya dan suami yang hina adalah suami yang menghina wanita. Contoh lain –masih dalam konteks relasi suami dan isteri–hadis tentang ancaman laknat kepada isteri yang menolak ajakan hubungan badan dari suaminya jauh lebih terkenal daripada hadis yang menyuruh suami yang sudah selesai hajatnya (orgasme) untuk menunggu isterinya menyelesaikan hajatnya atau hadis yang menyatakan, bahwa seorang suami dikatakan sebagai orang yang kasar jika tidak melakukan pemanasan yang cukup sebelum hubungan suami isteri. Dalam pemahaman yang tidak seimbang itulah aktivis perempuan mengajukan protesnya, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika semua fihak mau memahami ajaran Islam secara utuh. Jadi, keseimbangan dalam relasi suami dan isteri adalah: isteri taat kepada suami dan suami memuliakan isterinya, keduanya atas dasar cinta kasih.

Keseimbangan relasi antara suami dan isteri juga tercermin dari pernyataan Nabi, bahwa (calon) isteri yang baik adalah mereka yang tidak menuntut mahar yang mahal, sedangkan suami yang baik adalah suami yang bersedia memberikan mahar yang mahal.

Keseimbangan antara generasi muda dan generasi tua tercermin dari rasa sayang yang tua kepada yang muda dan rasa hormat dari yang muda kepada yang tua.

Keseimbangan dalam hubungan pemberi dan penerima, tergambar dari anjuran untuk mengembangkan kesediaan memberikan yang terbaik dan banyak pada satu sisi dan anjuran untuk tidak nggege mangsa atau menggunakan aji mumpung bagi penerima kebaikan. Pemberi hutang dianjurkan untuk tidak sering menagih, sedangkan penghutang dianjurkan segera membayar hutang.

Keseimbangan kunci harmoni, sebaliknya ketidakseimbangan menimbulkan kerusakan.