Selera itu tumbuh alamiah atau dapat dididik? Pertanyaan ini cukup penting untuk kita rembug, ketika negeri yang konon menjunjung tinggi norma atau kesopanan sedang terkena booming erotisme, kekerasan dan mistikisme. Mengapa mistikisme yang secara rasional ditatap sebagai pembodohan logika justru direspons masyarakat dengan rating yang tinggi dalam survey tayangan televisi kita? Demikian pula, mengapa erotisme –yang sebenarnya jauh dari nilai kesopanan apalagi keluhuran budi– semakin marak dalam tayangan televisi? Kekerasan pun seolah tak mau kalah, selain kejadiannya terus meningkat, tayangannya tersaji pada jam anak menonton televisi. Bahkan kekerasan dan erotisme kerap kali tersaji sekaligus dalam film yang dianggap sebagai film anak-anak.

Mengapa berkembang situasi sedemikian ? Hipotesisnya, hal tersebut berhubungan dengan menonjolnya peran selera dalam kehidupan masyarakat kita. Saat ini masyarakat kita tidak berbicara dengan menggunakan logika atau ukuran nilai-nilai keluhuran, tetapi lebih mengedepankan selera. Sayangnya selera masyarakat selera yang sedang berkembang saat ini justru menyenangi hal-hal serupa itu. Pemberitaan tentang kasus kekerasan yang mungkin berhubungan dengan penyimpangan perilaku seksual justru sangat sering ditayangkan oleh semua stasiun televisi dan tanpa malu-malu dan tampaknya tanpa rasa berdosa, sebuah stasiun televisi swasta menampilkan wawancara dengan pasangan gay yang konon sudah menikah sejak beberapa tahun silam.

Selera adalah persoalan rasa, jadi menyangkut senang dan tidak senang atau kecenderungan untuk memilih atau tidak memilih sesuatu. Pada mulanya, selera adalah naluriah, tetapi sebenarnya selera dapat diarahkan. Jika dididik, selera tidak akan berhenti pada bentuk dasarnya (basic instinct) tetapi dapat berkembang menjadi selera tingkat tinggi, atau selera yang terdidik.

Selera yang terdidik ditandai oleh kecenderungannya untuk memilih sesuatu yang memiliki keagungan, keindahan dan keluhuran. Selera terbentuk melalui kebiasaan. Sedangkan kebiasaan dibentuk melalui pembiasaan (artinya suatu usaha sadar) atau terbentuk karena paparan situasi/kondisi tertentu.

Jadi mendidik selera berarti mengembangkan kebiasaan yang baik, melalui pembiasaan atau usaha sadar untuk meningkatkan efektivitas paparan dengan nilai-nilai atau kebiasaan luhur. Analoginya, anak-anak yang dibiasakan mengkonsumsi sayuran dan buah akan menyukai sayuran dan buah-buahan. Jika orang tua menyukai koran atau tabloid yang gambarnya “seru” atau “saru’, anak-anak akan mempunyai selera yang lebih kurang sama. Anak-anak yang sering melihat orang tuanya menonton hiburan yang sarat erotisme akan terbiasa dengan situasi yang sama dan akan menyukai hiburan yang erotis pula, bahkan sangat mungkin akan melebar pada obyek lain yang memiliki unsur yang sama: erotisme.

Selera merupakan bagian dari karakter seseorang. Seorang dengan karakter baik, tentu mempunyai selera yang baik pula dan selera ini akan terekspresi secara spontan dalam memilih sesuatu hal, misalnya hiburan, bacaan atau mode pakaian. Sebagai bagian dari karakter, selera lebih merupakan ekspresi jangka panjang, tetapi kadang, selera juga dihubungkan dengan ekspresi jangka pendek, misalnya ungkapan “saya sedang tidak berselera untuk makan”. Jadi, selera dapat dipengaruhi oleh situasi sesaat atau kondisi lingkungan. Akan tetapi, seorang yang kuat adalah seseorang yang ekspresi jangka panjangnya lebih kuat daripada ekspresi jangka pendeknya. Seseorang yang berkarakter tidak mudah terpengaruh oleh booming erotisme atau mistikisme dalam tayangan televisi atau media cetak, dan tidak akan mengikuti trend mode pakaian, jika bertentangan dengan seleranya yang sudah terdidik.

Persoalan yang kita hadapi adalah bahwa setiap saat kita terpapar situasi dan kondisi yang kurang menguntungkan pendidikan selera atau mempertahankan kualitas selera kita. Jika paparan situasi atau kondisi yang kurang menguntungkan itu berjalan secara kronis dan akumulatif, maka boleh jadi akan terjadi proses desensitisasi, sehingga kepekaan kita akan berkurang secara perlahan. Rasa risih terhadap erotisme, misalnya, akan semakin berkurang jika setiap saat kita terpapar dengannya. Kita pun tidak lagi sensitif dengan dosa, karena dosa sudah menjadi kelaziman.

Dalam situasi seperti itu, kita diuji, apakah akan mengikuti situasi yang ada atau membentuk situasi alternatif untuk menyelamatkan selera kita dan selera anak-anak kita. Jika situasi alternatif itu belum tersedia, kita perlu mengkreasinya. Jika tidak, berarti kita membiarkan selera kita mengalami degradasi dan pelan-pelan larut dalam selera tingkat dasar. Dan hampir pasti, itu akan disusul oleh anak-anak kita. Quo vadis masa depan mereka?

Apa kaitan perbincangan kita dengan puasa ? Melalui puasa Ramadhan agama mendidik selera kita untuk kembali kepada selera yang menjunjung putihnya fitrah. Kembali kepada selera asal, perlu dimaknai dengan kembali kepada fitrah yang agung.