Adalah menarik, bahwa wahyu pertama yang diturunkan adalah surat al aAlaq yang dimulai dengan perintah membaca (Iqra), yang juga menegaskan, bahwa pena (al-qalam) adalah sarana pengajaran pengetahuan kepada manusia tentang hal-hal yang belum diketahui (QS. Al-Alaq : 1-5). Selain substansi utamanya, dari ayat di atas dapat dipetik hikmah bahwa ummat sepatutnya mengembangkan budaya membaca dan menulis. Informasi menarik lainnya adalah bahwa setiap bulan Ramadhan Rasulullah SAW selalu melakukan tadarrus al-Quran bersama malaikat Jibril, mereview (membaca dan mengkaji) ayat-ayat yang pernah diturunkan.

Membaca berarti membuka jendela dunia, yang dengannya kita mendapatkan berbagai informasi. Tak kurang Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa menulis atau mencatat adalah buhul ilmu. Karenanya, tak rugi jika pena selalu menemani ke manapun kita melangkah. Termasuk dalam pengertian ini adalah berbagai alat bantu perekam informasi. Adapun menulis, setidaknya ia mempunyai dua tujuan, yakni pertama, mengikat informasi yang kita peroleh sehingga tidak mudah hilang dan memudahkan kita untuk mendapatkannya kembali secara mudah ketika kita membutuhkannya dan kedua, adalah menyediakan media untuk membagikan informasi kepada orang lain.

Ketika ummat kehilangan tradisi membaca dan menulis, maka ummat akan mengalami kemunduran. Informasi tidak dikuasai dengan baik dan bahkan ummat dapat dipermainkan oleh pihak lain yang menguasai informasi. Karenanya, ada baiknya jika kita menetapkan target jam membaca baik untuk bidang keilmuan / bidang pekerjaan kita maupun membaca informasi di luar bidang keilmuan / bidang pekerjaan kita. Dengan kebiasaan membaca ini penguasaan akan bidang keilmuan kita semakin dalam dan luas dan kita tidak akan kehilangan informasi bidang lain, yang memungkinkan kita lebih gaul.

Beruntung, bahwa pada saat ini teknologi informasi memungkinkan kita untuk melakukan penelusuran informasi yang sangat luas dan hampir-hampir tidak terbatas. Berbagai sumber informasi dari seluruh dunia dapat kita akses melalui internet dengan cepat dan biaya yang relatif murah.

Namun demikian, kemudahan ini bukannya tanpa ekses negatif. Banjirnya informasi boleh jadi suatu saat membuat kita menjadi bingung, karena di samping informasi yang bermanfaat, dalam dunia maya ini juga tersedia banyak informasi yang bersifat sampah (tak berguna), bahkan mungkin toksik (beracun).  Bagaimanapun, orang beriman tidak boleh menjadi bingung atau bengong, karena di antara ciri orang yang beriman adalah pandai memilah dan memilih informasi sebagaimana disebutkan dalam ayat 18 surat az- Zumar. Momentum Ramadhan, mengingatkan kita untuk mengembangkan tradisi membaca, verifikasi informasi dan menulis.

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”