Menyampaikan pesan, apalagi suatu perintah ada seninya, agar yang menerima pesan atau perintah itu bersedia melakukan apa yang kita minta dengan kelegaan hati. Dalam kesempatan ini kita akan belajar dari cara Allah mengkomunikasikan kewajiban puasa, sebagaimana dapat kita baca pada surat albaqarah dan ayat-ayat lain yang terkait.

Pertama, bukalah komunikasi dengan menyampaikan sapaan atau panggilan yang lembut dan menyenangkan hati. Dalam ayat puasa, Allah memulai komunikasinya dengan seruan “Wahai orang-orang yang beriman”, sehingga dampaknya dapat kita lihat: hampir semua ummat Islam tergerak untuk menjalankan ibadah puasa. Luqman al Hakim, sang bijak bestari memulai pembicaraan bersama anaknya dengan “Wahai anakku” (Yaa bunayya). Demikian pula Nabi Ibrahim membuka berita besar tentang kewajiban penyembelihan anak kinasihnya dengan “Wahai, ananda” (Yaa abati). Sebutan penghormatan banyak digunakan dalam komunikasi Nabi Muhammad SAW bersama para isteri dan sahabatnya, sebaliknya pemberian sebutan (Jawa: paraban) yang tidak baik dilarang oleh Allah dan Nabi Muhammad SAW. Dengan awalan yang baik, maka kita akan terhindar dari situasi yang tidak menyenangkan: berbicara kepada mereka, dan mendapatkan situasi yang lebih menarik: berbicara bersama atau dengan mereka.

Kedua, menyampaikaan pesan atau perintah dengan bahasa yang halus. Ungkapan pasif kerap kali memberi nuansa lain sebagai variasi ungkapan aktif. Dalam ayat puasa, Allah menggunakan gaya bahasa pasif “telah diwajibkan berpuasa (ramadhan) atas kalian semua”. Nabi Ibrahim menyampaikan pesannya dengan gaya bercerita dan dialogis “Aku melihat dalam mimpiku, bahwa aku menyembelihmu,bagaimana pendapatmu? ”. Gaya bertanya banyak digunakan Nabi Muhammad, misalnya “Sahabatku sekalian, apakah yang Anda semua ketahui tentang…?”. Gaya ini cukup menggugah perhatian dan minat orang yang diajak bicara. Namun demikian, prinsip umum yang mesti kita pegang adalah menggunakan bahasa yang dapat difahami oleh penerima pesan kita. Prinsip ini menghajatkan pemahaman yang baik tentang karakteristik orang yang akan kita ajak bicara (watak, kebiasaan, intelektualitas, dan sebagainya).

Ketiga, ada baiknya jika kita mencoba memberikan informasi tambahan agar penerima pesan merasa ringan untuk menjalankan pesan atau perintah itu. Dalam ayat puasa, Allah memberi informasi, bahwa ummat terdahulu juga telah menerima perintah puasa. Dengan informasi ini, kita merasa, bahwa kewajiban puasa tidak hanya dibebankan kepada kita saja, ummat terdahulu juga mendapat beban yang sama dan mereka mampu melakukannya.

Keempat, menjelaskan tujuan, maksud atau bahkan manfaat diperintahkannya suatu perbuatan. Dalam ayat puasa misalnya, Allah menjelaskan, bahwa tujuan puasa adalah agar ummat menjadi bertaqwa. Jadi seyogyanya apabila kita memberi perintah kepada anak kita atau kepada siapa saja, sertai dengan penjelasan maksud, tujuan atau manfaatnya. Tidak bijaksana jika kita menggunakan bahasa “pokoknya harus”, atau “kamu tidak perlu tahu mengapa harus begitu!”, karena hal itu mencerminkan ketidaksiapan kita untuk berdialog.

Jadi, beralihlah kepada komunikasi efektif dan santun sebagaimana dicontohkan Allah dan Rasul-Nya.