Salah satu makna shabar adalah shabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Tetap konsisten dalam melaksanakan ibadah andaikata harus sendirian, tetap ikhlas di keramaian, shabar menghadapi godaan dan yang ingin diwacanakan melalui tulisan ini adalah : mengembangkan sikap toleran.

Seorang yang berpuasa dan mendapati orang lain yang nyata-nyata menantang dianjurkan untuk tetap bershabar dan membuat sebuah pernyataan : sesungguhnya aku dalam keadaan puasa! (innii shoimun). Apakah pantas kita mudah marah kepada orang lain yang makan ataun minum di siang hari di bulan Ramadhan. Apakah kita merasa perlu mencari musuh dengan, misalnya melakukan tindak pemaksaan penutupan rumah makan di siang hari dengan alasan menghormati bulan Ramadhan ?

Himbauan untuk menghormati bulan puasa seyogyanya kita tujukan kepada kita sendiri. Gembira mendapatkan momentum Ramadhan yang menurut penuturan Sang Rasul membuka peluang rahmat, barokah dan maghfirah dari Allah. Wujud kegembiraan itu antara lain tampil dalam bentuk semangat melaksanakan ibadah dan amal shalih di siang hari maupun di malam hari. Demikian pula gerakan untuk mengakrabi Al Quran yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai petunjuk hidup. Menjauhi tindak ma’shiyat atau kondisi-kondisi yang mendekatkan kepada mashiyat menjadi pelengkapnya. Demikianlah cara kita menghormati bulan puasa. Hal-hal demikian kiranya lebih baik daripada kita menuntut orang lain menghormati bulan puasa.

Dengan sikap toleran, seorang yang berpuasa tidak mudah tersinggung jika mendapati orang yang makan di siang hari, karena kita tidak tahu apakah orang itu seorang muslim yang dikenai kewajiban puasa atau bukan muslim yang tentu saja tidak diwajibkan puasa. Bahkan, kita tidak tahu, jangan-jangan mereka yang kita dapati sedang makan minum di siang hari adalah saudara kita sesama muslim yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) yang oleh Al-Quran sendiri diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Jadi, jangan mudah tersinggung atau buru-buru marah. Puasa kok marah! Shabar!

Andaikata ada muslim yang tidak berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan, maka kewajiban kita sebagai sesama anggota masyarakat (ummat) hanyalah sebatas memberi nasihat atau peringatan agar orang tersebut mau berpuasa. Kita sampaikan dengan cara yang baik, bahwa meninggalkan puasa satu hari saja tanpa alasan yang dibenarkan syariat tidak akan tergantikan dengan melakukan puasa selama satu tahun. Kita sampaikan, bahwa puasa adalah kewajiban orang tersebut, agar menjadi bertaqwa. Sangat baik, jika kita bersedia mendoakan mereka agar mau bertobat, mendapat petunjuk Allah sehingga mau beribadah. Nahnu du’at, laisal qudhat. Kita hanyalah da’i (penyeru kepada kebajikan) bukan hakim yang berhak menghukum mereka.

Ramadhan mendidik kita untuk mengembangkan keshabaran yang indah, dada yang lapang, sikap yang toleran yang merupakan sebagian dari karakteristik kepribadian muslim.