Seorang modern selalu berpandangan ke depan. Nasihat yang menarik untuk topik kali ini adalah “Mulailah dari yang akhir!”, yang mengingatkan kepada kita semua agar kita selalu memikirkan tujuan jangka panjang kita sebelum memulai langkah-langkah kecil kita. Dalam bahasa manajemen, visi dan tujuan suatu organisasi atau pribadi harus ditetapkan, sebelum program kerja jangka pendek. Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mampu menunda keinginan, menyiratkan kita untuk memupuk dan memanen masa depan, tak hanya menikmati hari ini.

Visi dibentuk melalui aktivitas envisioning, bagaimana seseorang melihat lingkungannya, menatap masa depannya dan menterjemahkan filosofi hidupnya menjadi orientasi dan cita-cita hidupnya. Bagaimana dengan visi seorang muslim  atau visi kolektif ummat Islam ?. Dalam Al-Quran, disebutkan idealita hidup berupa dua macam keunggulan (hasanatain), yakni “hasanah fid-dun-ya dan hasanah fil-akhiroh”. Dua keunggulan tersebut didudukkan dalam formula yang unik: bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia (walal akhirotu khoirul laka minal ula) dan juga lebih kekal (wal akhirotu khoiruw wa abqo), tetapi manusia tidak boleh melupakan dunia ( wa laa tansa nashibaka minaddun-ya). Orientasi ini sangat jelas, sehingga seorang muslim akan menggenggam dunia di tangannya, bukan di hatinya, karena hatinya penuh dengan akhirat.

Dengan demikian, kekayaan bagi seorang muslim adalah alat ibadah, sebagaimana rukuh atau sajadah yang biasanya direpresentasikan sebagai alat ibadah. Dengan hartanya Nabi dan sahabatnya menebus dan membebaskan budak, membebaskan saudaranya dari ekonomi, menyembelih korban, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji. Demikian pula generasi sesudahnya.

Secara kolektif, visi ummat dapat dirumuskan dari ungkapan menjadi “khoiru ummah”, ummat terbaik atau –dalam bahasa Muhammadiyah–masyarakat utama. Ummat seharusnya maju dan mandiri di semua bidang. Unggul secara ekonomi dan kebudayaan. Sehat secara jasmani dan ruhani.

Visi tersebut menghajatkan keseriusan kita untuk menyiapkan masa depan. Allah swt membentuk visi muslim dengan ungkapan yang menggugah perhatian: “Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dikerjakan untuk hari esoknya”.

Seorang muslim, karenanya tidak pernah berfikir jangka pendek. Langkahnya jauh ke depan, dengan berpijak pada masa kininya serta belajar dari pengalaman masa lalunya. Nabi Muhammad Saw mengajak ummatnya untuk selalu memperbaiki kualitas dengan ungkapannya yang terkenal “Merugilah orang yang keadaan hari ini sama dengan kemarin dan celaka bagi mereka yang hari ini lebih jelek daripada kemarin”. Ini sejalan dengan konsep continous improvement dalam ilmu manajemen.

Secara demikian dapat difahami ummat Islam dituntut menjadi ummat yang futuristik dan dinamis. Ummat harus bekerja keras tapi juga cerdas, untuk mengkreasi masa depan. Sayangnya, kesempatan kita sesungguhnya sangat terbatas, karenanya jangan sampai kita terjebak pada situasi yang tidak menguntungkan: terpaksa masuk ke hari esok tanpa sempat mengisi hari ini. Bersyukur kita mempunyai nasihat abadi Nabi: “Jagalah kesempatan sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum  miskin, sehat sebelum sakit dan hidup sebelum datangnya kematian”.