Namanya Arzaky, anak lelaki itu berusia 8 tahun, namun membuat kesan khusus untuk saya Dia pasien saya di salah satu rumah sakit tempat saya bekerja sebagai dokter anak. Menjelang Ramadhan, dia saya rawat karena serangan sama berat. Dua hari sebelum Ramadhan dia sudah membaik dan saya pulangkan. Hari ini, 4 ramadhan dia kontrol sambil membawa rasa takut atau khawatir untuk bertemu dengan saya, dokternya. Menarik, Arzaky takut bertemu saya bukan karena takut disuntik, tetapi khawatir tidak diperbolehkan puasa. Subhanallah! Rupanya sepulang dari perawatan di rumah sakit, dua hari kemudian dia berpuasa karena mendapati bulan Ramadhan. Puasanya sampai maghrib sebagaimana keluarganya.Dia kuatir disalahkan karena sudah mulai berpuasa dan dia lebih kuatir lagi jika pada hari selanjutnya dilarang puasa.

Kisah Arzaky adalah kisah sebuah semangat beragama yang indah. Rasanya sebagai orang dewasa kita perlu merasa malu melihat semangat beribadah seorang anak berusia 8 tahun dan baru saja dirawat inap. Sebagai dokter muslim saya mendorong agar dia tetap berpuasa sembari mengingatkan perlunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Untuk anak sekecil dia, saya juga menyarankan makan kudapan (snack) menjelang tidur. Dengan cara itu, Insya Allah puasanya akan sukses dan status gizinya Insya Allah tidak akan terganggu. Semangat beragama yang tinggi juga pernah saya jumpai pada warga Kepakisan sekitar tahun 1988, sebuah desa di atas dataran Dieng; mereka bersemangat membayar zakat pertanian, bahkan dalam kondisi paceklik, karena memegang motto yang sangat menarik: jika di dunia rugi, kami tak mau merugi di akhirat! Di desa Kepakisan pula saya menyaksikan semangat ibu-ibu petani untuk konsisten mengenakan busana muslimah (berjilbab) ketika bertani di sawah mereka. Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, kecuali pada sebuah gambar wanita petani di Iran. 

Seperti telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, puasa jika dilaksanakan dengan baik, dengan memperhatikan rambu-rambu dan sunnah-sunnahnya tidak akan menggangu kesehatan. Puasa juga relatif tidak menambah angka morbiditas dan mortalitas, bahkan untuk beberapa macam penyakit atau kondisi, semisal dislipidemia (profil lemak darah yang tidak ideal), puasa justru akan berdampak positif. Barangkali isu ini berlawanan dengan fenomena maraknya iklan obat sakit maag (gastritis) menjelang dan selama Ramadhan. Iklan obat maag semacam itu dapat dikatakan merupakan hal yang salah kaprah, untuk tidak menyatakan suatu kesalahan besar. Gastritis atau sering disebut sakit maag umumnya disebabkan oleh meningkatnya sekresi asam lambung akibat kecemasan atau keterburu-buruan (grusa-grusu), sehingga puasa Ramadhan yang umumnya meningkatkan ketenangan pelakunya justru akan memperbaiki (menyembuhkan) sakit maag. Akan jadi masalah bila sakit maag yang diderita seseorang sudah cukup parah. Dalam situasi demikian, maka ulama menganjurkan agar sebelum memutuskan untuk berpuasa atau tidak, orang tersebut perlu berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis yang beragama Islam. Lebih baik lagi apabila dicari pendapat dokter kedua sebagai pembanding.

Kembali pada puasanya anak-anak. Di awal Ramadhan ini saya juga mempunyai pengalaman berharga untuk menjaga semangat puasanya anak saya yang berusia 7 tahun. Saya berkeyakinan, jika dia sukses puasa pada hari pertamanya, maka pada hari-hari selanjutnya akan terasa mudah. Dalam hal ini saya bersyukur, bahwa pada hari pertama puasa, kantor saya, UMY, meliburkan pegawainya. Libur itu ternyata sangat bermanfaat, bukan untuk meringankan puasa para pegawai, tetapi dengan libur itu saya mendapat kesempatan untuk mendampingi anak-anak untuk melampaui hari pertama puasa mereka. Anak-anak memang membutuhkan pendampingan, bukan sekedar motivasi. Peran keteladanan dan persoalan-persoalan tumbuh kembang anak dapat dibaca pada tulisan lain, dalam blog saya yang lain. (bambangedi.blogspot.com)