Pada hari ini ummat Islam merayakan hari besarnya, tidak dengan berpesta pora melainkan dengan lantunan takbir, tahlil dan tahmid dan dilanjutkan dengan shalat Idul Fitri serta saling mendoakan dengan ungkapan taqobbalallahu minnaa wa minkum. Secara kultural Idul Fitri juga diisi dengan silaturahim, saling meminta dan memberi maaf. 

Lantunan takbir tahlil dan tahmid, dengan penghayatan yang benar sesungguhnya merupakan kalimat tauhid, yang maknanya membesarkan, mengesakan dan memuji Allah, untuk hidayah dan ni’mat yang telah diberikan kepada kita:

 “…Dan hendaklah kamu cukupkan bilangannya dan hendaklah kamu kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS 2:185)

Pasca Ramadhan, muslim seharusnya memiliki tauhid yang mantap, sehingga akan menjadikan cintanya kepada Allah dan Rasulullah sebagai prioritas dibandingkan dengan cintanya kepada selain itu. Ketundukan dan ketaatan kepada Allah diharapkan menjadi hasil utama pendidikan selama Ramadhan.

Shalat Idul Fitri merupakan cermin ketundukan kita kepada Allah sekaligus forum silaturahim ummat. Bersatunya kegiatan ibadah dengan sosial makin lengkap dengan silaturahmi di antara muslim dengan doa khas hari raya : Taqobbalallahu minnaa wa minkum.

Doa tersebut menggambarkan kerendahan hati, bahwa apapun yang telah kita kerjakan selama Ramadhan, hendaknya kita sandarkan kepada ridho Allah Swt, agar DIA menerima amal kita, bahkan menutup kekurangannya. Doa berikuit menggambarkan harapan itu : Robbana taqobbal minnaa sholaatana wa shiyaamanaa wa rukuu’ana wa sujuudana wa qu’uudana wa tadlara’anaa wa tammim taqshiirana ya Allah ya Robbal ‘alamiin.

Demikianlah cara kita mengisi hari raya. Tidak dengan bergembira ria yang berlebihan. Bahkan Rasulullah Saw pun menyarankan puasa sunnah di bulan Syawwal. Maha suci Allah yang mendidik kita dengan cara yang indah.

Ramadhan telah berlalu, dan kitapun akan menapaki bulan-bulan berikutnya, Insya allah, entah sampai kapan, saat kita akan dijemput kembali untuk menghadap Allah. Karenanya marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing : bagaimanakah amal-amal kita di luar Ramadhan ?

Ada baiknya kita mencoba untuk memaknai hidup ini dengan menapaki jejak-jejak Ramadhan, sehingga idealitas dan idealisme yang kita bangun selama Ramadhan tidak hancur. Karenanya akan kami ringkas beberapa nilai dan hikmah mengenai makna hidup yang kita petik dari Ramadhan :

1. Pendidikan jiwa

Pendidikan jiwa (tarbiyatunnafs) berarti mendidik jiwa kita, jiwa keluarga dan masyarakat kita menuju jiwa yang tenang, penuh kesyukuran, keshabaran dan ridho atas apa yang diberikan Allah, keikhlasan untuk meninggalkan apa yang diharamkan Allah Swt, bahkan meninggalkan hal-hal yang tidak jelas manfaatnya, sekalipun halal, termasuk perbuatan-perbuatan yang selama inii dikategorikan sebagai kemakruhan.

Atas alasan ini pula kami mendukung RUU anti-pornografi dan menyayangkan adanya pihak-pihak tertentu yang menyuarakan penolakan terhadap RUU tersebut dengan cara tidak fair, yakni memelintir pengertian-pengertian yang ada dalam RUU tersebut. Mereka yang menolak RUU tsb tidak menghormati proses yang sudah berlangsung dan telah melakukan kekeliruan berpikir dan jauh dari pemahaman dasar atau spirit isi RUU tsb yang dimaksudkan untuk menyelamatkan moral bangsa dari ancaman pornografi.

2. Semangat beragama (relijiusitas)

Patut dsyukuri selama Ramadhan relijiusitas ummat meningkat, bahkan hal itu tampak juga di kalangan artis, yang ditandai dengan tampilnya mereka dengan busana muslimah, maraknya lagu-lagu pop reliji, di samping nasyid-nasyid yang menggugah hati. Semoga hal itu bukan sekedar tampilan yang sangat situasional apalagi sekedar respons terhadap pasar, tetapi awal yang serius untuk perbaikan terus menerus.  

3. Semangat menimba ilmu dan Mengkaji Al Quran

Kegiatan pendalaman agama menjadi menu Ramadhan di berbagai masjid dan mushala, bahkan di lingkungan kantor. Kuliah Subuh, kuliah dhuhur dan pesantren kilat mengemuka. Semangat menimba ilmu agama seyogyanya dipertahankan pasca Ramadhan. Kunjungan para wanita ke masjid jika dikaitkan dengan motif mengaji menjadi cukup penting untuk ditingkatkan. Tadarrus Al Quran yang menjadi aktivitas Ramadhan seyogyanya ditlanjutkan dan dilengkapi dengan kajian maknanya, bahkan tafsirnya.  

4. Semangat memakmurkan masjid

Berakhirnya Ramadhan tidak boleh membuat kita menjadi jarang mengunjungi masjid/mushala. Abdullah bin Ummi Makhtum adalah shabat Nabi yang rajin ke Masjid meskipun buta dan rumahnya jauh dari masjid.

 
5. Solidaritas sosial

Ibadah Ramadhan disertai semangat bershadaqah seyogyanya bermuara pada penumbuhan dan pemantapan rasa tanggung jawab sosial. Karena itu sesudah Ramadhan berakhir, semestinya semakin mantap rasa tanggung jawab sosial kita.

Kesehatan sosial menjadi bagian tak terpisahkan dalam konsep sehat dalam Islam, yakni kesehatan fisik, jiwa dan sosial. Dalam posisi apapun, kepekaan dan solidaritas sosial itu menjiwai gerak langkah kita. Mereka yang menjadi wakil rakyat tidak melupakan dan meninggalkan rakyat yang mereka wakili. Kita yang menjadi rakyat juga memiliki solidaritas, toleransi dan saling membantu,  karena seorang muslim dengan muslim lain adalah ibarat bagian bagian bangunan yang saling mengokohkan (yasyuddu ba’dohu ba’don)

Berdasar nilai-nilai kehidupan yang kita petik selama Ramadhan itu, perkenankanlah saya berharap dan menghimbau akan hadirnya masyarakat yang agamis, peduli dengan pendidikan jiwa, bersemangat dalam pengembangan ilmu, yang hatinya terikat kepada masjid dan sekaligus memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Kita juga berharap akan tampilnya sebuah konfigurasi kepemimpinan bangsa dan negara yang siap dan memiliki kecakapan untuk membangun bangsanya dengan watak religiusitas yang kokoh, intelektualitas yang tinggi, penuh solidaritas pada sesama, dan bersikap profesional. Itulah yang diperlukan untuk mengawal reformasi, yang seharusnya merupakan proses transformasi multidimensi menuju kebaikan, bukan sebaliknya menuju kerusakan. 

Allah Swt berfirman dalam surat Ali Imron ayat 104;

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”