Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. At Taubah : 20)

Minal ‘aidin wal faizin adalah untaian kalimat yang sangat populer di sekitar hari raya atau ‘idul fitri. Secara spontan masyarakat muslim Indonesia mengucapkan  kalimat tersebut dalam perjumpaan sekitar masa lebaran. Ungkapan ini jauh lebih populer daripada doa lebaran yang lebih standar, yakni taqobbalallahu minnaa wa minkum. Ada baiknya agar lebih “nyunnah” doa standar tersebut kita ucapkan sebelum menyatakan minal aidin wal faizin.

Secara bahasa, arti minal aidin wal faizin adalah “dari (golongan) orang- orang yang kembali dan yang mendapat keuntungan”. Jadi, sebenarnya, ia merupakan penggalan doa yang kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut : Semoga Allah Swt menjadikan kita sebagai bagian dari (golongan) orang-orang yang kembali (al ‘aa idun) dan yang mendapat kemenangan (al faaizuun)”. Dalam bahasa Arab, doa ini dapat dilafalkan sebagai berikut “Ja’alanallahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaizin”.

Ungkapan minal aidin menggambarkan keinginan kita agar dijadikan Allah sebagai bagian dari orang-orang yang kembali kepada fitrah, bukan sekedar kembali makan (ifthar = buka) setelah berpuasa. Sementara itu, ungkapan wal faizin mewakili harapan kita untuk menjadi pemenang atau mendapat kemenangan hakiki, yang berkaitan dengan keberhasilan proses pembajaan selama Ramadhan yang merupakan bulan bakti (bulan amal shalih) sekaligus bulan pendidikan (tarbiyah).

Rasulullah menggambarkan keberhasilan puasa sebagai kembalinya sang pelakunya kepada sifat-sifat fitri sorang bayi yang baru dilahirkan. Kembalinya fitrah ini dapat dikaitkan dengan bersihnya hati dari dosa karena amal shalih selama Ramadhan dijanjikan akan menutup dosa pelakunya sebagaimana disabdakan Rasul. Kembali kepada fitrah juga dapat dikaitkan dengan kokohnya tauhid sebagaimana kokohnya jawaban kita atas sebagaimana kokohnya jawaban kita atas pertanyaan Allah di saat kita belum dilahirkan “alastu birobbikum?” (apakah engkau akui bahwa AKU Rabbmu?).   

Adapun kemenangan, dapat dihubungkan dengan berbagai jenis kemenangan hakiki sebagaimana disebut dalam Al-Quran, di antaranya adalah : derajad yang tinggi di sisi Allah (QS at taubah:20), ridha Allah (QS at taubah:72), surga (QS at Taubah: 100), dan karunia dari Allah (QS. Ad dukhon: 57). Kemenangan juga dikaitkan dengan sifat-sifat baik, yang dikembangkan selama Ramadhan, yakni: ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (QS al Ahzab:71), memprioritaskan Allah daripada kecenderungan atau selera pribadi (At-Taubah:24), kesabaran (QS Al mu’minun:111), serta takut dan ketaqwaan kepada Allah (QS an Nur: 52).