Jalan-jalan ke Salatiga memberi kesan tersendiri. Salatiga relatif sejuk, meskipun menurut sejawat di RSUD Salatiga sekarang tidak lagi seperti dulu. Panas. Meski begitu kesejukan masih terasa, apalgi ketika berjalan sepanjang salatiga-Kopeng-Ketep. Perbukitan dan persawahan serta sungai amat cantik untuk dipandang, meski dalam beberapa segmen terganggu oleh jalanan yang rusak. Terlihat beberapa sekolah teologi apabila kita memandang lahan sisi kiri antara Salatiga dan Kopeng. Kompleks Salib Putih yang tampaknya makin berkembang. Hotel salib Putih melengkapi kompleks Sekolah Teologi itu. Hal baru tampaknya adalah ruang ruang yang dikembangkan untuk bussines meeting para profesional dari lingkungan Salib Putih. Bagus, karena selain pengembangan agama, tampaknya juga ada pengembangan SDM. Para profesional dicelup dengan nuansa Salib Putih dan sebaliknya dari Salib Putih dikembangkan profesional. Tampaknya di sana bertemu konsep pengembangan agama dan agribisnis.

Ummat islam tak boleh berhenti dengan meratap. Aktivitas kreatif mestinya juga dikembangkan oleh ummat Islam. Lahan sisi kanan, konon belum dipakai HGU-nya. Saat ini ada teman muslim yang concern,  tampaknya salah satu murid Ihyaus Sunnah atau At-Turots Al-Islamy, dengan merintis pengembangan pendidikan, agribisnis dan radio muslim. Lahan masih luas, tantangan masih banyak, jadi masih diperlukan perhatian dan peran nyata ummat Islam.

Sekedar sebagai perbandingan, kalau di salatiga ada Salib Putih, di tempat lain ada Palang Biru yang mengambil peran dalam pelayanan kesehatan dan Palang Merah yang mengambil peran dalam aktivitas kemanusiaan. Diharapkan Muhammadiyah, Bulan sabit Merah Indonesia atau partai Dakwah bisa bahu membahu atau bermusabaqoh dalam kebaikan. fastabiqul khoirot!!!